Daerah Transmigran yang Tumbuh dan Potensial

Kps:08-07-04

SETELAH diresmikan sebagai daerah otonom yang baru, ternyata Kabupaten Dharmasraya di Sumatera Barat belum segera mulai melakukan penyelenggaraan pemerintahan. Ini sehubungan dengan meninggalnya Penjabat Bupati Ahmad Munawar.

Setelah penjabat bupati yang baru, Asrul Syukur, dilantik pada 14 Mei 2004, roda pemerintahan baru berjalan menyiapkan diri untuk meraih masa depan.

"Di satu sisi Kabupaten Dharmasraya dihadapkan pada berbagai keterbatasan yang memang berat. Sementara sebagai daerah baru, justru akan menghadapi eskalasi tuntutan kebutuhan yang berkembang dengan sangat cepat. Apalagi, sebagai sebuah daerah dengan karakter yang unik, Kabupaten Dharmasraya adalah daerah yang menuntut perlakuan yang spesifik pula," papar Gubernur Sumbar Zainal Bakar.

Menurut dia, ditinjau dari aspek ekonomi daerah ini memiliki potensi yang cukup besar yang selama ini masih belum tergarap secara maksimal. Selanjutnya dipandang dari aspek sosiologis dan historis, di Kabupaten Dharmasraya masih terdapat warisan peninggalan sejarah dan kebudayaan masa lalu (Kerajaan Dharmasraya) yang sampai saat ini masih terapresiasi dengan sangat kuat dalam pola pikir masyarakat setempat.

Ditinjau dari aspek sosial kemasyarakatan, Kabupaten Dharmasraya memiliki pula heterogenitas penduduk yang sudah barang tentu akan diikuti berbagai konsekuensi yang ditimbulkan.

Kesemuanya itu, menurut Zainal Bakar, menuntut perlakuan yang cermat dan menghendaki pola penanganan yang sesuai. Oleh karena itu, Penjabat Bupati Dharmasraya diharapkan mampu mengakomodasinya. Ia mengingatkan, "Tujuan yang hendak kita capai adalah kesejahteraan masyarakat sehingga sangat tidak bijaksana bila pada akhirnya kekeliruan dalam penanganan masalah, justru merugikan bagi kemaslahatan kita sendiri."

PENJABAT Bupati Asrul Syukur memaparkan, pihaknya kini sedang mencoba menggalang kebersamaan, meningkatkan sinergi pertumbuhan, serta mengoptimalkan pemanfaatan potensi bagi tercapainya percepatan pertumbuhan kawasan. "Kami punya komitmen yang kuat untuk mewujudkannya," tandasnya.

Apa potensi kabupaten yang terdiri dari empat kecamatan (Pulau Punjung, Sitiung, Kotobaru, dan Sungai Rumbai) ini?

Menurut Asrul Syukur, Kabupaten Dharmasraya adalah daerah perkebunan dan pertanian yang relatif sudah berkembang maju. Saat ini terdapat enam perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, dengan total luas sekitar 80.000 hektar, termasuk perkebunan kelapa sawit yang diusahakan sejumlah koperasi unit desa (KUD). Sektor ini menjadi tiang utama dalam struktur perekonomian daerah setempat.

"Masih ada peluang bagi calon investor untuk membuka perkebunan, dengan luas pencadangan sekitar 30.000 hektar. Bisa perkebunan kelapa sawit, bisa karet, atau perkebunan dengan komoditas lainnya," ungkapnya.

Asrul menambahkan, juga terbuka peluang investasi untuk pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Saat ini baru ada empat pabrik CPO dengan kapasitas produksi sekitar 250 ton tandan buah segar (TBS) per jam.

Di bidang pertanian, di Dharmasraya terdapat megaproyek bernilai sekitar Rp 1,3 triliun, yakni Irigasi Batanghari. Tahun 2005/2006 Irigasi Batanghari diperkirakan beroperasi optimal sehingga akan menggeliatkan ekonomi masyarakat. Pasalnya, irigasi tersebut akan mengairi sawah seluas 18.000 hektar. Kini juga terbuka peluang membuka areal persawahan baru di Sitiung I dan Sitiung II seluas 15.000 hektar.

Pembudidayaan sayur-mayur sebelumnya merupakan usaha yang dilakukan sekitar 33.000 petani, dan hasilnya dikirim ke daerah tetangga, Pekanbaru dan sekitarnya di Provinsi Riau dan Muarobungo, Provinsi Jambi. Nantinya, diyakini bakal tambah berkembang pesat. Komoditas padi dan hortikultura merupakan sektor andalan selain perkebunan.

Kabupaten Dharmasraya juga punya potensi di bidang pertambangan seperti batu bara yang sampai sekarang belum tergarap optimal, padahal memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain batu bara, juga ada kandungan bahan tambangan lain seperti batu kapur, lempung kuarsit, emas, pasir kuarsa, dan sebagainya.

"Kandungan masing-masing bahan tambang itu di perut bumi Dharmasraya akan diteliti intensif agar calon investor dapat mengetahui dan kemudian memastikan diri untuk menanamkan modalnya," tambah Asrul Syukur.

Sebagai daerah yang posisinya strategis, yaitu sebagai pintu gerbang Sumbar dari arah selatan yang berbatasan dengan Provinsi Jambi dan arah timur dengan Provinsi Riau, keunggulan daerah ini karena dilalui sekitar 100 kilometer jalan lintas tengah Sumatera.

Kenyataan ini memberi peluang terbukanya pusat pertumbuhan baru sektor perdagangan dan jasa di Kabupaten Dharmasraya. Calon investor bisa mengembangkan sektor perdagangan/jasa dengan membangun pusat pertokoan, swalayan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Menurut Asrul Syukur, daerah berpenduduk 142.168 jiwa (tahun 2000)-dengan rincian Pulang Punjung 29.328 jiwa, Sitiung 29.376 jiwa, Kotobaru 47.509 jiwa dan Sungai Rumbai 35.958 jiwa-mudah diakses dari pusat segi tiga pertumbuhan kawasan timur Sumatera (Singapura-Johor-Riau).

"Pemerintah Kabupaten Dharmasraya akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi calon investor dalam hal perizinan dan akan memfasilitasi pengusaha dengan masyarakat yang kini tengah berharap bisa lebih meningkat kesejahteraannya," tandas Asrul Syukur.

Dengan potensi yang ada dan animo investor untuk menanamkan modalnya, tahun 2005 pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Dharmasraya ditargetkan Rp 10 miliar. "Kami optimistis, PAD bisa mencapai Rp 10 miliar. Dari data tahun 2000 yang diolah, dari Rp 11,833 miliar PAD Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Rp 7,15 miliar di antaranya berasal dari sumber-sumber yang kini menjadi daerah otonom bernama Kabupaten Dharmasraya," paparnya.

Zainal Bakar mengingatkan, untuk maksud ini kabupaten induk hendahnya memberikan dukungan dan fasilitas yang dibutuhkan. Hindari sejauh mungkin terjadinya friksi dan tarik menarik kepentingan. "Marilah kita tempatkan kepentingan masyarakat luas di atas segala kepentingan yang lain. Tujuan yang hendak kita capai adalah kesejahteraan masyarakat," tandasnya. (YURNALDI)

 

tahun 2005 pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Dharmasraya ditargetkan Rp 10 miliar. "Kami optimistis, PAD bisa mencapai Rp 10 miliar. Dari data tahun 2000 yang diolah, dari Rp 11,833 miliar PAD Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, Rp 7,15 miliar di antaranya berasal dari sumber-sumber yang kini menjadi daerah otonom bernama Kabupaten Dha