Kebocoran Tiket Rp 33,5 Miliar per Tahun

24-10-05

Jakarta, Kompas - Kebocoran pendapatan PT Kereta Api dari tiket masih marak terjadi. Bahkan, kerugian diperkirakan mencapai Rp 33,5 miliar per tahun. Kasus itu adalah akibat dari ketidakseriusan manajemen perusahaan tersebut dalam memerangi penumpang ilegal serta membersihkan stasiun dari penumpang yang tidak bertiket.

Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch Taufik Hidayat, Minggu (23/10), mengatakan, kebocoran pendapatan itu diperkirakan mencapai 30 persen dari total penumpang yang diangkut kereta rel listrik ekonomi. Fakta tersebut dimungkinkan terjadi sebab setiap orang dibolehkan masuk ke stasiun, lalu menaiki kereta api. Tidak mengherankan, penumpang tanpa tiket pun ikut menikmati perjalanan KA.

”Kasus ini sebetulnya bukan baru. Berbagai pihak sudah sering mengingatkan manajemen, tetapi penertiban itu hanya berlangsung sesaat,” kata Taufik Hidayat.

Sementara itu, Kepala Daerah Operasi (Daop) PT KA wilayah Jabotabek Rachmadi mengakui ada kebocoran dari tiket penumpang. Akan tetapi, penertiban kasus tersebut tidak bisa dilakukan sesaat dan membutuhkan proses panjang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengimpor KRL guna meningkatkan jumlah armada KRL ekspres yang beroperasi di wilayah Jabotabek guna menekan kebocoran pendapatan.

”Kalau semua KA di Jabotabek seperti KRL ekspres, maka takkan ada kebocoran lagi. Takkan ada penumpang gelap lagi sebab KA itu telah memiliki pintu yang terkunci rapat menjelang pemberangkatan. Jadi, penertibannya tak harus melalui kekerasan, tetapi perlu lebih komprehensif,” ujar Rachmadi.

Namun, Taufik Hidayat menilai penertiban kebocoran dari tiket KA adalah upaya memerangi penyimpangan. Hal itu merupakan bagian dari membangun disiplin masyarakat dan pengelola KA. Mentalitas yang buruk tersebut tak mungkin bisa dibenahi hanya dengan mengimpor KRL.

Bahkan, mengimpor KRL hanya akan mematikan industri kereta api nasional yang sudah teruji keandalannya dalam memproduksi KRL. ”Jadi, menertibkan penumpang gelap dan mengimpor KRL adalah dua hal yang berbeda. Sangat disayangkan jika logika yang salah tersebut ikut dibenarkan instansi terkait, seperti Departemen Perhubungan, Kementerian Negara BUMN dan DPR,” ujar Taufik Hidayat. (JAN)

 

s=GramE>Mentalitas yang buruk tersebut tak mungkin bisa dibenahi hanya dengan mengimpor KRL.

Bahkan, mengimpor KRL hanya akan mematikan industri kereta api nasional yang sudah teruji keandalannya dalam memproduksi KRL. ”Jadi, menertibkan penumpang gelap dan mengimpor KRL adalah dua hal yang berbeda. Sangat disayangkan jika logika yang salah tersebut ikut dibenarkan instansi terkait, seperti Departemen Perhubungan, Kementerian Negara BUMN dan DPR,” ujar Taufik Hidayat. (JAN)