Membandingkan aspal Buton vs aspal minyak

Bisnis Indonesia : 8 Agustus 2006

 

 

Jalan adalah infrastruktur dasar dan utama dalam menggerakkan roda perekonomian nasional dan daerah. Hal itu disebabkan penting dan strategisnya fungsi jalan untuk mendorong distribusi barang dan jasa sekaligus mobilitas penduduk.

Ketersediaan jalan adalah prasyarat mutlak bagi masuknya investasi ke suatu wilayah. Jalan memungkinkan seluruh masyarakat mendapatkan akses pelayanan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan.

Namun ironisnya, berdasarkan data dari Departemen PU Januari 2006, kondisi jalan kita masih memprihatinkan. Jalan nasional sepanjang 35.068,84 km, sekitar 53% dalam kondisi baik, 38,51% sedang, 6,7% rusak ringan dan 0,97% rusak berat. Sedangkan kondisi jalan provinsi 25,83% baik, 48,65% sedang, 19,26 % rusak ringan dan 6,26 % rusak berat.

Sementara itu, data kondisi jalan kabupaten/kota di Indonesia sepanjang 245.793 km pada 2004 menunjukkan kondisi yang baik hanya 48.779,54 km, 64,572,30 km sedang, 6.365,76 km sedang rusak, 83,508,66 km rusak, dan 41.369,99 km rusak berat.

Artinya, hampir 51,5% kondisi jalan-jalan tersebut masuk dalam kategori rusak. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan di tengah tingginya tuntutan masyarakat dari seluruh daerah bagi pemenuhan kebutuhan sarana jalan yang layak dan memadai.

Berkaitan dengan penyelenggaraan jalan oleh pemerintah, baru-baru ini Departemen PU mengajukan eskalasi harga aspal minyak sebesar 50% hingga 60 % untuk proyek tahun anggaran 2006.

Secara keseluruhan, eskalasi harga aspal tersebut akan memberikan kontribusi kenaikan biaya proyek sekitar 20%, terlebih untuk proyek jalan yang banyak menggunakan komponen aspal. Dasar pengajuan eskalasi harga tersebut adalah akibat meningkatnya harga aspal minyak hingga mencapai 200% selama setahun terakhir.

Harga minyak

Kenaikan harga aspal minyak saat ini bersumber dari meningkatnya harga minyak dunia hingga lebih dari US$70 per barel. Akibatnya, harga produk aspal minyak-sebagai produk turunan dari pengolahan minyak bumi-turut naik secara signifikan.

Kebutuhan aspal minyak Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun, di mana 600.000 ton di antaranya diproduksi oleh Pertamina. Sisanya 700.000 ton diimpor dari berbagai negara penghasil aspal minyak di dunia. Untuk membiayai impor aspal minyak tersebut, kita telah mengeluarkan devisa yang sangat besar.

Kesulitan yang timbul akibat meningkatnya harga aspal minyak sesungguhnya merupakan sebuah blessing in disguise kepada bangsa Indonesia. Momentum yang tercipta tersebut justru seharusnya membangun kesadaran kita untuk dapat berfikir mencari berbagai terobosan (breaktrough) agar tidak tergantung dari produk aspal minyak impor.

Logika yang sama juga telah dilakukan oleh pemerintah dengan keluarnya inpres untuk mengembangkan bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi. Berbagai macam produk dapat digunakan sebagai bahan baku produk biofuel seperti tanaman jarak, kelapa sawit, tebu dan singkong. Kesulitan kita menghadapi kenaikan harga minyak dunia justru seharusnya menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mencari bahan alternatif pengganti aspal minyak.

Hal itu tidak terlampau sulit karena Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya alam sebagai alternatif produk aspal minyak yaitu aspal Buton. Aspal Buton adalah aspal alam yang terdapat di Pulau Buton-Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada era tahun 70-an aspal Buton mengalami masa-masa keemasan.

Pertama kali aspal Buton ditemukan pada 1926 oleh Hetzel, seorang geolog Belanda. Selanjutnya aspal tersebut diolah oleh PT Perusahaan Aspal Negara sampai akhirnya dilaksanakan (salah satunya) oleh PT Sarana Karya (BUMN).

Cadangan aspal Buton yang terukur diperkirakan mencapai 650 juta ton dari sejumlah 2 miliar ton hasil survei Direktorat Energi dan Sumber Daya Mineral, Bandung. Semenjak ditambang hingga saat ini, aspal Buton yang telah dieksploitasi baru 3,4 juta ton. Potensi penggunaan aspal Buton dalam pembangunan dan pemeliharaan jalan sudah sangat layak dan dapat segera dilaksanakan.

Hal ini berdasarkan Sertifikasi Uji Kelayakan Teknis dari Pusat Penelitian Jalan Departemen PU No. 06.1.02.485701.33.11.002. Bahkan penelitian terakhir pengembangan aspal Buton telah dapat menghasilkan kualitas jalan yang setara dengan penggunaan aspal minyak.

Aplikasi penggunaan aspal Buton sebagai komponen utama aspal telah dapat digunakan dalam metode/bentuk hot mix, cold mix, Lapen. Campuran aspal Buton pada metode hotmix dan coldmix akan mengurangi pemakaian aspal minyak hingga 75% dengan kualitas yang lebih baik dari pada hanya menggunakan hotmix seluruhnya.

Sedangkan pemakaian aspal Buton metode Lapen telah mampu mensubstitusi sepenuhnya aspal minyak. Metode aplikasi Lapen dengan aspal Buton relatif mudah dilaksanakan dengan biaya murah serta dapat dilaksanakan secara manual.

Keunggulan kompetitif

Sebagai produk yang dihasilkan langsung dari alam, aspal Buton dapat berfungsi sebagai produk pengganti (substitusi) sekaligus produk pelengkap (komplementer) dari produk aspal minyak.

Sebagai produk pengganti, aspal buton dapat menggantikan pemakaian produk aspal minyak yang digunakan untuk pembangunan jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan di tingkat kabupaten dan kota.

Sedangkan sebagai produk pelengkap, aspal Buton dapat digunakan sebagai bahan tambahan (modifier) untuk campuran perkerasan jalan berkualitas tinggi untuk jalan arteri, jalan kolektor 1, jalan kolektor 2, jalan kolektor 3, dan jalan kolektor 4 di tingkat jalan provinsi, serta jalan nasional termasuk juga jalan bebas hambatan (jalan tol).

Penggunaan produk aspal buton pasti akan menekan biaya konstruksi dan pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas dan mutu konstruksi jalan tersebut karena harganya lebih murah dibandingkan harga aspal minyak. Selain itu, bintumen aspal buton memiliki kemampuan untuk meningkatkan titik lembek dan kelekatan campuran.

Penerapan produk modifier aspal Buton di beberapa negara seperti China dan Myanmar telah terbukti memberikan kualitas hasil terbaik. Bahkan aplikasinya telah dilakukan untuk kelas jalan tingkat tinggi (high performance pavement) di negara-negara tersebut. Sungguh ironis melihat besarnya pengakuan dan penerimaan yang didapat dari negara lain sementara di negeri sendiri justru keberadaan aspal Buton hanya dipandang sebelah mata.

Oleh Bambang Soeroso
Anggota DPD RI Panitia Adhoc II, anggota Indonesia Forum for Infrastructure Professional

 

 

p>

Penerapan produk modifier aspal Buton di beberapa negara seperti China dan Myanmar telah terbukti memberikan kualitas hasil terbaik. Bahkan apl