Kelas Akselerasi, Akselerasi Pendidikan atau Pengajaran?

Oleh Paul Suparno

BEBERAPA kali di harian ini didiskusikan tentang kelas akselerasi di sekolah menengah ke bawah. Secara umum dalam kelas akselerasi, siswa yang berbakat intelektual tinggi mendapat perlakuan khusus sehingga dapat menyelesaikan program SD, SLTP, dan SMU lebih cepat dari siswa lain.

Para ahli pendidikan sebagian setuju dan sebagian lain tidak setuju dengan program itu. Lepas dari setuju atau tidak, kini ada sekolah yang mulai mencobanya dan dari percobaan itu nanti perlu dievaluasi apakah positif atau tidak.

Persoalan kelas akselerasi tentu saja bukan hanya soal percepatan lulusan, tetapi apakah ini demi akselerasi pengajaran atau akselerasi pendidikan? Apakah mungkin pendidikan diakselerasikan? Bila hanya soal pengajaran (pengetahuan), apakah ini menjawab persoalan pendidikan nasional yang akhir-akhir ini banyak didiskusikan, yaitu persoalan pendidikan nilai bagi generasi muda kita? Di bawah ini dicoba diungkap keuntungan dan kerugian kelas akselerasi bagi pendidikan dan pengajaran di sekolah.

***

KEUNTUNGAN kelas akselerasi adalah, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara khusus sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Jadi keuntungannya terletak pada akselerasi pengajaran.

Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat.

Selain keuntungan, ada beberapa segi kerugian dari program kelas akselerasi ini, terlebih bila dilihat dari segi pendidikan nilai kemanusiaan yang lebih menyeluruh.

Pertama, pendidikan nilai sulit dipercepat. Dalam perdebatan persoalan pendidikan nasional akhir-akhir ini banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolah-sekolah dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain seperti emosionalitas, religiositas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, afektivitas, dll.

Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya, penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran pengetahuannya.

Maka program kelas akselerasi, yang hanya menekankan segi pengetahuan (kognitif), tidak membantu bahkan mungkin memperburuk penanaman nilai. Maka kita dapat mempertanyakan bagaimana dengan pendidikan nilai kemanusiaan ini? Apakah perkembangan emosi, hati, religiositas, dan sosialitas dapat dipercepat? Apakah dengan pemercepatan lulusan, justru tidak membantu mereka lebih terlalu menekankan segi kognitif, sehingga segi lain tidak mendapatkan perhatian? Memang dapat lulus dengan cemerlang dan cepat, tetapi dapat berkembang menjadi kurang peduli kepada teman lain dan tidak mengerti pergulatan teman lain, kurang sosial, bahkan emosi mereka tidak berkembang pula.

Kedua, pendidikan nilai oleh keluarga dan masyarakat masih kurang. Kelas akselerasi yang hanya menekankan pengetahuan anak berbakat, akan menjadi sungguh baik bila pendidikan nilai sudah ditangani keluarga, masyarakat, dan pemerintah secara menyeluruh. Bila keluarga dan masyarakat mendampingi anak-anak dalam mengembangkan nilai kemanusiaan-seperti nilai demokrasi, sosialitas, penghargaan terhadap manusia lain-maka sekolah akselerasi yang hanya memperhatikan pengetahuan dapat dimengerti.

Akan tetapi, sejauh pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat belum menangani banyak hal, kiranya sekolah formal masih harus ikut menjalankan fungsi pendidikan nilai itu. Dari pengalaman, hal ini tidak mudah dipercepat. Bahkan sering terjadi anak-anak berbakat kurang berkembang dalam nilai kemanusiaan yang lain.

Ketiga, banyak anak umur sekolah tidak dapat sekolah. Di Indonesia kini masih banyak anak usia SD-SMU yang tidak mengalami pendidikan sekolah karena ekononi keluarga yang jelek dan yang drop out karena terpaksa menjadi anak jalanan. Maka, meski memikirkan program akselerasi bagi beberapa anak berbakat tidaklah salah, namun sebagai bangsa kiranya porsinya kurang pas.

Sebagai bangsa, kita perlu membantu anak-anak yang belum dapat menikmati pendidikan. Mereka akan menjadi bagian penting pengembangan bangsa ini di kemudian hari, maka kita bertanggung jawab untuk membantu mereka. Jangan sampai ada segelintir siswa dibantu dipercepat, sedangkan kebanyakan anak yang masih tidak dapat menikmati pendidikan minimal dibiarkan atau tidak diurus karena kurang menarik dan memakan biaya besar. Berapa lembaga yang kini ikut memikirkan pendidikan "anak-anak jalanan" dibanding yang mulai memikirkan "program akselerasi?"

Keempat, bakat menonjol siswa berlainan. Kemampuan menonjol siswa dapat bervariasi, ada yang amat menonjol dalam bahasa, IPA, matematika, dan lain-lain. Hal ini juga berlaku bagi siswa yang IQ-nya tinggi. Maka membuat kelas akselerasi yang memperhatikan keunggulan siswa yang berbeda-beda, dalam praktik juga sulit. Sedangkan bila dibantu secara sama dapat terjadi tidak pas dengan kebutuhan siswa, akibatnya akan kurang efisien.

***

MELIHAT kerugian dari segi pendidikan kelas akselerasi cukup banyak dibanding keuntungan dalam segi pengetahuan, diusulkan jalan keluar dengan kelas pengayaan. Dengan kelas pengayaan, siswa yang berbakat dan pandai, tetap di kelas yang sama dengan teman lain, tetapi pada saat mereka sudah menyelesaikan bahan pelajaran yang diberikan, siswa berbakat diberi tugas khusus lebih tinggi tingkatnya. Dengan demikian mereka mempunyai tugas khusus yang lebih bermutu dari yang lain, tetapi mereka tidak diluluskan lebih cepat.

Dengan cara ini di kelas ada tuntutan minimal yang berlaku bagi semua siswa, dan ada tambahan-tambahan yang diberikan kepada setiap siswa yang lebih pandai. Di sini dipadukan antara model kelas umum dan kelas individual. Guru diajak lebih terbuka dengan perbedaan pribadi dan kepandaian masing-masing anak.

Pada akhir program, mereka akan dinyatakan lulus dengan honour. Selain tugas pengayaan itu, mereka yang berbakat dapat dilibatkan untuk menjadi tutor bagi siswa lain, sehingga teman-teman lain terbantu. Model ini akan menumbuhkan sosialitas kepada mereka bahkan kepekaan mereka untuk membantu teman yang lemah dalam pengetahuan.

Dengan tetap menjadi satu kelas, siswa yang berbakat dan kurang berbakat dapat saling membantu dalam kehidupan bersama. Bukankah realitas hidup di masyarakat juga seperti itu? Kepekaan dan kerja sama dengan siswa yang kurang berbakat akan membantu mereka, bila nanti telah menjadi seorang ahli, untuk tetap memperhatikan nasib masyarakat kecil dan mau bekerja sama dengan orang biasa.

Tentu saja, bila ada sekolah yang ingin menyatukan anak-anak berbakat dalam kelas akselerasi ini tidak dapat dipersalahkan. Namun, yang kiranya perlu diperhatikan adalah apakah sekolah sadar, mereka juga mempunyai tugas untuk membantu pengembangan segi nilai kemanusiaan yang lain? Bila ini disadari maka sekolah dapat pula membantu bagaimana nilai-nilai lain tadi tetap dikembangkan dan bukan disingkirkan atau bahkan dilanggar.

Tentu di perguruan tinggi (PT) program akselerasi amat cocok karena pada taraf PT yang ditekankan adalah pengembangan pengetahuan mahasiswa, bukan pendidikan nilai seperti di SD sampai SMU. Maka pada level PT, boleh saja mahasiswa mengambil dua program studi, atau double major, kalau dari segi otak mereka mampu. Tetapi untuk SD hingga Sekolah Menengah yang masih menekankan pendidikan nilai kemanusiaan yang menyeluruh, kiranya kurang tepat penyelenggaraan kelas akselerasi yang hanya menekankan segi kognitif.

Paul Suparno, Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pengamat pendidikan

 

perguruan tinggi (PT) program aksele