Republika : Rabu, 14 Maret 2007

Mengakhiri Sentralisasi Listrik

Oleh :

Aep Saepudin
Mahasiswa Teknik Elektro ITB

 

Listrik mati, bagi masyarakat pada umumnya memang merupakan hal yang sepele. Tapi bayangkan jika hal ini terjadi pada sebuah pabrik berskala besar atau pusat perbelanjaan dan perkantoran yang tidak dapat hidup tanpa pasokan listrik. Sungguh satu menit aliran listrik sangat berarti bagi mereka. Gara-gara listrik mati, satu pekerjaan terhambat dan bisa membuat efek domino hingga pekerjaan lain pun terhambat.

Untuk mengatasi masalah ini, peran PLN dalam mengelola perlistrikan sangat penting. Saat ini, sistem distribusi listrik yang digunakan oleh PLN adalah sistem sentralisasi. Sistem ini menekankan pada penggunaan pembangkit listrik terpusat dan berskala besar. Tapi, apakah sistem tersebut efisien dan solutif dalam menangani masalah distribusi dan penyediaan energi listrik?

Sistem pembangkit listrik yang bersifat tersentralisasi ternyata dapat membawa dampak buruk dalam distribusi listrik di Indonesia. Dampak buruk yang pertama adalah banyaknya wilayah perdesaan di Indonesia yang tidak dapat menikmati listrik. Hal tersebut disebabkan oleh letak dan faktor geologis pedesaan yang buruk dan sulit dicapai oleh jaringan listrik yang pembangkitnya berada jauh dari perdesaan.

Selain itu sistem yang tersentralisasi pun menyebabkan terjadinya penyusutan tenaga listrik. Dari tahun ke tahun PLN terus berusaha meningkatkan efisiensi distribusi listrik, namun tetap saja susut tenaga yang hilang karena sistem yang tersentralisasi bisa dibilang besar. Penyusutan tenaga listrik ini pun menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis energi listrik di beberapa daerah.

Masalah listrik lain yang sering terjadi adalah padamnya aliran listrik dan tidak stabilnya tegangan. Padamnya aliran listrik biasanya terjadi pada masa beban puncak. Hal tersebut terjadi karena banyaknya pemakaian listrik. Penyedia energi listrik, yakni PLN, tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik masyarakat karena tidak ada pasokan sumber energi yang cukup. Untuk mengatasi hal ini dilakukanlah pemadaman secara sengaja agar tidak terjadi kerusakan pada penyalur listrik. Karena di Indonesia pendistribusian listrik menggunakan sistem sentralisasi, maka apabila dilakukan pemadaman pada gardu listrik, seluruh wilayah yang bergantung pada gardu tersebut akan mengalami black out.

Perlu desentralisasi
Dengan berbagai dampak buruk itu, sangatlah diperlukan suatu sistem baru yang dapat menyokong penyediaan energi listrik saat ini yang dapat menjangkau seluruh pelosok Tanah Air. Itulah sistem desentralisasi listrik. Sistem ini menggunakan pembangkit listrik berskala kecil yang terdesentralisasi (tersebar) di seluruh daerah rawan listrik dan membutuhkan pasokan listrik yang besar.

Sistem desentralisasi ini memiliki beberapa kelebihan yang membuat jaringan transmisi listrik mengacu pada satu kawasan tertentu. Dengan sistem ini, pembangkit listrik bisa dibangun di dekat atau di tempat yang membutuhkan listrik, seperti rumah sakit, perumahan, dan pusat pertokoan.

Dengan terdesantralisasi, pengelolaan distribusi listrik pun menjadi lebih mudah. Jangkauan listrik yang kecil akan memudahkan pengelolaan sistem distribusi listrik lebih lancar. Aliran listrik dapat terkendalikan dengan optimal sehingga bila terjadi gangguan listrik dapat dengan cepat ditangani. Kasus padam listrik pun akhirnya dapat dicegah.

Keuntungan lainnya, penyusutan daya listrik menjadi lebih kecil. Penyusutan daya listrik dapat terjadi akibat luasnya jangkauan transmisi listrik disertai dengan gangguan sistem distribusi, misalkan putusnya kabel listrik pada daerah tertentu. Hal itu akan membuat listrik terbuang dengan sia-sia tanpa dimanfaatkan. Karena sistem ini memiliki jangkauan aliran listrik yang kecil maka penyusutan daya dapat dikurangi sehingga efisiensi energi pun akan besar.

Sebenarnya sistem desentralisasi sudah dikaji sejak sekian lama. Tapi mengapa pihak PLN belum merealisasikannya atau mempublikasikan kepada masyarakat? Penerapan sistem desentralisasi listrik hendaknya mendapat perhatian dari pihak pemerintah karena listrik menyangkut hajat hidup orang banyak dan sangat penting peranya dalam membantu aktivitas masyarakat.

PLN sebaiknya melakukan kajian mengenai sistem dsentralisasi listrik ini dan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dan akademisi untuk mengkaji mengenai realisasi sistem ini di Indonesia. Apalagi beberapa tahun lalu telah ditemukan pembangkit listrik skala kecil yang dapat mendukung upaya desentralisasi listrik. Alat itu bernama turbin gas mikro.

Turbin mikro
Turbin gas mikro sangat cocok digunakan sebagai teknologi penunjang desentralisasi pembangkit tenaga listrik. Hal yang mendasari hal tersebut di antaranya, turbin gas mikro merupakan pembangkit listrik skala kecil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik suatu kawasan perumahan, pusat pertokoan, pabrik, atau rumah sakit. Alat tersebut juga dapat diletakkan di luar bangunan dan dalam pengoperasiannya dirancang khusus untuk maintenance free, sehingga dapat menekan biaya perawatan. Emisi gas NOx yang dihasilkan pun sangat rendah (di bawah 9 ppm), sehingga tak akan merusak lingkungan.

Keluaran gas bakar dari turbin tersebut juga masih mempunyai mempunyai suhu sekitar 250 deraat celcius. Panas ini masih dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air. Dengan pemanfaatan panas gas buangan ini, sistem turbin gas mikro dapat digunakan sebagai sistem cogeneration. Banyak lagi kemudahan dari alat tersebut.

Selain turbin gas mikro ada juga mikro turbin mikro hidro yang dijalankan dengan memanfaatkan arus air. Karena harus digerakkan oleh arus air, turbin mikro hidro ini hanya bisa dipasang sebagai pembangkit listrik di daerah yang kaya dengan aliran sungai. Turbin mikro hidro ini sudah bisa diproduksi secara massal di dalam negeri.

Sistem pembangkit tenaga listrik dengan metode sentralisasi tak cukup kuat untuk menangani krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia. Sistem tersebut memiliki kekurangan dalam hal distribusi atau transmisi listrik sehingga menyebabkan efisiensi energi listrik kurang optimal untuk memenuhi kebutuhan listrik. Hal tersebut menimbulkan krisis listrik di berbagai daerah.

Singkatnya, penggunaan sistem desentralisasi dengan menggunakan turbin gas mikro merupakan solusi yang tepat dalam menangani krisis energi listrik. Hal itu disebabkan sistem ini memiliki jaringan transmisi listrik yang mengacu pada satu kawasan tertentu, pengelolaan distribusi listrik lebih mudah, daya susut lebih kecil, dan efisiensi energi lebih besar dibanding sistem sentralisasi.

Penerapan sistem desentralisai listrik dan teknologi turbin gas mikro atau mikro hidro sebagai penyokongnya, perlu mendapat dukungan dari segi biaya produksi, pengadaan alat, sosialisasi, dan sistem perundangan yang mengatur penerapan teknologi ini. Tentunya, hal ini dapat terlaksana jika semua pihak yang terkait (pemerintah, pengusaha, dan akademisi) bekerja sama dan bersungguh-sungguh dalam merealisasikannya.

Ikhtisar
- Pengelolaan sistem pembangkit listrik yang tersentralisasi selama ini, mengandung banyak kelemahan.
- Selain membuat susut energi cukup besar, sentralisasi juga menyebabkan distribusi listrik tidak maksimal.
- Pemerintah harus mulai memikirikan kemungkinan untuk mendesentralisasi pengelolaan pembangkit listrik.
- Peralatan untuk mendukung desentralisasi pembangkit listrik sudah bisa diproduksi di dalam negeri.

 

 

terkait (pemerintah, pengusaha, dan akademisi) bekerja sama dan bersungguh-sungguh dalam merealisasikannya.

Ikhtisar
- Pengelolaan sistem pembangkit listrik yang tersentralisasi selama ini, mengandung banyak kelemahan.
- Selain membuat susut energi cukup besar, sentralisasi juga menyebabkan distribusi listrik tidak maksimal.
- Pemerintah harus mulai memikirikan kemungkinan untuk mendesentralisasi pengelolaan pembangkit listrik.
- Peralatan untuk mendukung desentralisasi pembangkit listrik sudah bisa diproduksi di dalam negeri.