Indonesia-Yaman Pererat Kerja Sama Pendidikan

15-09-03

Sana’a, Kompas - Pemerintah Indonesia dan Yaman mempererat kerja sama pendidikan dan agama lewat pertukaran mahasiswa. Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar dan Menteri Wakaf Yaman Hamoud Muhammad Ubaad hari Sabtu (13/9), warga Yaman memperoleh kesempatan belajar bahasa Indonesia dan seni selama setahun atau belajar di perguruan tinggi yang telah membuka program internasional. Sementara itu, di bidang pendidikan agama, tujuh mahasiswa Indonesia sudah mendapat beasiswa penuh dari Pemerintah Yaman untuk belajar di tujuh universitas negeri.

Seperti diberitakan wartawan Kompas Mohammad Bakir, penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Hamzah Haz dan Perdana Menteri Yaman Abdul Kader Abdulrahman Bajammal setelah pertemuan bilateral antara kedua negara di Istana Republik Yaman, yang berlangsung lebih dari satu jam, Sabtu lalu.

Said Agil mengatakan, kerja sama di bidang pendidikan meliputi program gelar dan non- gelar di perguruan tinggi di Indonesia. "Program ini dilakukan dengan beasiswa parsial. Kalau di Depdiknas ada yang disebut program darma siswa," ujarnya.

Untuk program pascasarjana, kata Agil, warga Yaman bisa langsung mendaftar ke universitas yang menyelenggarakan program internasional baik di bidang kedokteran, ekonomi, teknologi, pertambangan, bahasa, maupun seni.

"Pengajaran akan dilakukan dengan pengantar bahasa Inggris. Khusus di Universitas Islam Negeri, pengajaran akan disampaikan dalam bahasa Inggris dan Arab," kata Menteri Agama.

Di bidang pendidikan agama, kata Agil, tujuh mahasiswa sudah mendapat beasiswa penuh dari Pemerintah Yaman untuk belajar di tujuh universitas negeri. "Kami sudah memberangkatkan mereka, yang semuanya berasal dari Provinsi Banten," ujarnya.

Pemerintah Indonesia, kata Agil, juga telah berhasil mengupayakan bantuan beasiswa kepada 480 mahasiswa Indonesia yang belajar di beberapa universitas dan pesantren di Yaman. "Meski tidak besar, tetapi untuk makan dan hidup sederhana di sini, cukup. Hanya kalau mau beli buku, ya, harus beli sendiri," ujarnya.

Pemerintah, kata Agil, sedang mengupayakan agar 480 mahasiswa itu bisa diakui sebagai mahasiswa oleh Pemerintah Yaman. "Kan mereka belajar di beberapa pesantren yang belum diakui pemerintah. Kami minta agar mereka kalau lulus nanti bisa mendapat semacam ijazah dari pemerintah," katanya.

Seorang pelajar Indonesia bernama Fahmi mengakui, tidak semua pelajar Indonesia belajar di universitas. "Sebagian memang di pesantren, yang kalau keluar tidak mendapat tanda apa pun," katanya.

Agil mencontohkan, metode pengajaran di Pesantren Darul Mustafa yang diikuti sekitar 260 pelajar Indonesia berlangsung seperti pesantren di Indonesia.

"Semua pelajar kita di sana sudah mendapat beasiswa dari Pemerintah Yaman, dan karena itu kita minta sekalian pengakuan terhadap mereka. Kami pun telah memberi bantuan kepada Darul Mustafa sebesar 5.000 dollar AS, " katanya.

 

ajar di universitas. "Sebagian memang di pesantren, yang kalau keluar tidak mendapat tanda apa pun," katanya.

Agil mencontohkan, metode pengajaran di Pesantren Darul Mustafa yang diikuti sekitar 260 pelajar Indonesia berlangsung seperti pesantren di Indonesia.

"Sem