Jawa - Bali Krisis Listrik

 Media Indonesia : 19 Agustus 2005

JAKARTA (Media): Wilayah Jawa-Bali, kemarin, kembali mengalami pemadaman listrik. Kejadian tersebut bisa disebut sebagai yang terparah setelah peristiwa September black out pada 2002.

Ketika itu hampir seluruh wilayah Jawa dan Bali gelap gulita lebih dari enam jam dalam dua hari berturut-turut.

Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono mengatakan padamnya listrik sistem Jawa-Bali mulai pukul 10.23-14.00 WIB kemarin disebabkan adanya gangguan pada sistem interkoneksi 500 kiloVolt (kV) Saguling, Cibinong, dan Cilegon. Sehingga, sistem kehilangan pasokan hampir 50% atau 5.000 mw.

"Gangguan itu menyebabkan sistem Jakarta-Banten mengalami pemadaman, sementara subsistem Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali padam sebagian," kata Eddie.

Rusaknya jaringan tersebut berdampak pada operasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, Jawa Timur dan PLTU Suralaya, Banten. Unit VII dan unit VIII PLTU Paiton dengan kapasitas pembangkit 1.300 mw berhenti operasi. Unit I, unit III, unit IV, unit V, unit VI, dan unit VII PLTU Suralaya dengan kapasitas pembangkit 2.700 megawatt juga kolaps.

Akibat pemadaman tersebut, sekitar 3,1 juta pelanggan PLN di Jawa-Bali tidak menerima pasokan listrik sebanyak 11.400 megawatthours (mwh).

Pada Mei-Juni 2005, wilayah Jawa-Bali juga pernah mengalami ancaman pemadaman bergilir meski tidak separah kemarin. Ketika itu, pasokan listrik berkurang rata-rata 300 mw, yang disebabkan berlangsungnya pekerjaan penyambungan pipa (tie-in) gas oleh BP Offshore North West Java di PLTGU Tanjung Priok dan PLTGU Muara Karang, Jakarta Utara, pada 23 Mei 2005 sampai dengan 6 Juni 2005.

Akibatnya, fasilitas pembangkit listrik tersebut harus berhenti sementara. Untuk itu, PLN mengimbau masyarakat menggeser pemakaian listrik, misalnya menyalakan pompa air saat di luar beban puncak.

Pengurangan pemakaian listrik dapat dilakukan dengan mematikan alat-alat elektronik yang tidak dipakai, khususnya pada pukul 17.00-22.00.

Imbauan penghematan ini terutama ditujukan kepada pelanggan rumah tangga. Sebab, pelanggan industri dan bisnis sudah sepakat untuk sementara menggunakan genset.

Penghematan ini perlu dilakukan karena sistem kelistrikan Jawa-Bali tengah mengalami krisis akibat tingginya pertumbuhan beban puncak.

Rata-rata beban puncak pada sistem Jawa-Bali mencapai 14.800 mw, sedangkan daya mampu seluruh pembangkit PLN di Jawa-Bali 15.000 mw.

Di sisi lain, konsumsi terus tumbuh rata-rata mencapai 100 mw setiap bulannya. Bahkan, pelanggan industri, sejak harga BBM naik pada Maret 2005, ramai-ramai menjadi pelanggan PLN dan tidak lagi memakai genset.

Sebagai gambaran, kapasitas terpasang pembangkit Jawa-Bali pada 2003 sebesar 18.608 mw, dengan daya mampu 17.473 mw dan pemakaian beban puncak 13.682 mw, sehingga ada cadangan daya 27,7%.

Tahun berikutnya, cadangan daya mencapai 27,8%, namun pada semester I 2005 turun menjadi hanya 24,2%. Hal ini memengaruhi keamanan sistem ketenagalistrikan Jawa-Bali, sebab jika tiba-tiba ada lonjakan permintaan atau gangguan besar, sistem tidak mampu menanggulangi.

Wilayah DKI Jakarta dan Tangerang mengonsumsi 30% dari total kebutuhan listrik Jawa-Bali atau setara 4.090 mw dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahun mencapai 5,5%.

Menurut catatan PLN Disjaya, selama 23 Mei 2005-6 Juni 2005, wilayah DKI Jakarta dan Tangerang rata-rata setiap hari kekurangan pasokan 200 mw. Total kekurangan daya di wilayah itu selama 15 hari berhentinya pembangkit Priok dan Muara Karang mencapai 3.048 mw.

Selama ini, beban suplai listrik Jawa-Bali terbesar ada di DKI Jakarta dan Banten 42,5%. Jawa Barat 18,1%, Jawa Tengah 15,85%, dan Jatim serta Bali 23,52%.

PLN mengakui kedua unit pembangkit besar (Suralaya dan Paiton) yang jaraknya terpisah amat jauh itu cukup sensitif terhadap perubahan sistem sehingga keandalannya rendah.(Wis/E-5).

 

 

Selama ini, beban suplai listrik Jawa-Bali terbesar ada di DKI Jakarta dan Banten 42,5%. Jawa Barat 18,1%, Jawa Tengah 15,85%, dan Jatim serta Bali 23,52%.

PLN mengakui kedua unit pembangkit besar (Suralaya dan Paiton) yang jaraknya terpisah amat jauh itu cukup sensitif terhadap perubahan sistem sehingga keandalannya rendah.(Wis/E-5).