BERITA
KONSUMSI RUMAG TANGGA JADI TUMPUAN
(21-05-2013)

Armida S. Alisjahbana, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, mengatkan konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama. Namun, investasi dan konsumsi pemerintah diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik pada pertumbuhan ekonomi 2013 dibandingkan dengan tahun ini.

"[Investasi] Kuartal I memang melambat, makanya ke depannya pemerintaj mengusahakan supaya perumbuhan optimal," katanya seusai menyampaikan Kerangka Ekonomi makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2014 dalam sidang rapat paripurna DPR, Senin (20/5).

Di sisi pengeluaran pemerintah, Kepala Bappenas mengharapkan adanya momen pemilu mampu mendorong peran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain mendorong pengeluaran pemerintah, lanjutnya, momen pemilu juga memberikan efek berganda bagi komponn pertumbuhan ekonomi lainnya.

Dalam pembicaraan pendahuluan RAPBN 2014 di DPR, pemerintah memproyeksi kontribusi konsumsi rumah tangga dalam pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 2,8% - 3,1%. Adapun, kontribusi konsumsi pemerintah dan investasi berturut-turut hanya 0,4% dan 2,2% - 2,6%, sedangkan kontribusi ekspor-impor berkisar 0,7% - 0,9%.

Berdasarkan laju pertumbuhannya, proyeksi laju pertumbuhan hampir semua komponen pertumbuhan ekonomi 2014 lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2013.

Hanya komponen konsumsi rumah tangga yang diproyeksi mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2014 dengan laju pertumbuhan 5,2% - 5,6%, lebih tinggi dari target APBN 203 yang sebesar 4,9%.

DI BAWAH RPJMN

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2014 lebih rendah daripada target bertumbuhan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2010-2014 yang sebesar 7%-7,7% dengan lasan situasi ekonomi dunia yang belum pulih.

Pemerintah hanya mematok pertumbuhan ekonomi tahun depan di kisaran 6,4% - 6,9% yang dibayangi segala resiko pemulihan ekonomi global yang belum cukup berarti mendorong ekspor.

Ekonomi dunia pada 2014 memang diperkirakan tumbuh 4% akibat kebijakan stimulus pada 2013, tetapi resiko tingginya utang dan implikasi pengetatan fiskal di Eropa dan pemangkasan belanja di Amerika Serikat masih membayangi.

"Memang masih di bawah target RPJM, tetapi lebih baik dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2012 dan perkiraan 2013," jata Armida.

Sementara itu, tekanan terhadap komoditas energi dan nonenergi di pasar internasional akibat ketidakpastian situasi ekonomi global diperkirakan tetap berlanjut sehingga berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Dinamika ekonomi global turut mempengaruhi asumsi makro lain nya. Inflasi diperkirakan melaju cukup moderat 3,5% - 5,5% dan nilai tukar rupiah bergerak Rp. 9600 - Rp. 9800 per dolar Amerika Serikat. Sementar itu, suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan dipatok 4,5% - 5,5%.

Haga minyak mentah Indonesia ditetapkan US$100-US$115 per barel. Lifting minyak ditarget 900.000-930.000 barrel per hari (bph), sedangkan lifting gas 1,24 juta - 1,325 juta barel per hari setara minyak. Adapun defisit anggaran dijaga di kisaran 1,7% - 2,3% terhadap PDB.

 

Sumber : Bisnis Indonesia (21 Mei 2013 Hal. 3)