BERITA
APBN-P 2013 LEBIH REALISTIS
(23-05-2013)

Perubahan Asumsi dan postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun 2013 lebih realistis. Ini tidak sebatas menyangkut kesehatan fiskal, tetapi juga bakal berimplikasi mendongkrak kepercayaan pasar sehingga investasi tumbuh.

Menteri Keuangan M Chatib basri dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Salsiah Alisjahbana menyampaikan pokok-pokok perubahan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2013 dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta (22/5).

Dalam paparannya, Chatib menegaskan, perubahan APBN Tahun 2013 bukan untuk menampung pembengkakan belnaja. tetapi langkah itu berkaitan dengan perubahan kebijakan guna mengamankan pelaksanaan APBN Tahun 2013.

Kesehatan APBN adalah tolak ukur stabilitas makro. Salah satu indikatornya adalah defisit tidak melampaui ambang batas 3 persen. tanpa perubahan kebijakan , maka defisit APBN Tahun 2013 bisa mencapai 3,8% persen, sementara skenario perubahan yang disusun pemerintah menargetkan defisit APBN 2,48 persen.

"Stabilitas makro adalah alat, bukan tujuan. Tujuannya adalah meningkatkan kesjahteraan rakyat karena dengan stabilitas makro maka ekonomi akan tumbuh, termasuk investasi yang akan menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja'" kata Chatib.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Instana Negara, Rabu menegaskan, untuk melindungi kelompok masyarakat bawah daru dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, bantuan langsung sebaiknya diberikan selama lima bulan. Kurang dari itu, pemberian bantuan langsung justru tidak dapat mencapai tujuannya.

"Kalau lima bulan itu pas. Ibarat obat, dosisnya pas. Kalau dososnya tidak pas, nanti masih kena, Masih sakit," kata Hatta.

Hatta menyampaikan bahwa inflasi nasional berbeda yang dialami kelompok masyarakat bawah. Lebih dari 40 persen pemasukan kelompok ini habis untk memberi beras dan bahan makanan. Karena itu, jika terjadi inflasi dan pengeluaran belanja meningkat, kelompok masyarakat bawah langsung merasakan dampaknya.

"Kita harus menjaga kelompok yang rentan itu. Posisi mereka hanya 1,25 atau 1,5 kali dari garis kemiskinan,"ujar Hatta.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, A Toni Prasetiantono, berpendapat, asumsi makro pada APBN-Perubahan Tahun 2013 jauh lebih realistis dan relevan dengan kondisi sekarang. Asumsi yang lebih realistis bisa menjaga kredibilitas pemerintah dan menimbiulkankepercayaan para pelaku ekonomi.

Defisit anggaran 2,48 persen terhadap produk domestik bruto, menurut Tony, masuk akal. Dalam kondisi normal, defisit seyogyanya 2 persen. Namun dalam situasi tertekan, defisit bisa dilonggarkan hingga 3 persen. Oleh sebab itu, defisit 2,48 persen masuk kategotri moderat.

Inflasi yang dipatok7,2 persen pun masih berdasa. Perbandingannya adalah ketika tahun lalu India menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi sekitar Rp. 11.000 per liter, inflasinya tembus 10 pesen.

 

Sumber : Kompas